Kemenag RI: Memperkuat Kerjasama Pendidikan Tinggi Indonesia - Aljazair (Catatan Delegasi) -

Kemenag RI: Memperkuat Kerjasama Pendidikan Tinggi Indonesia - Aljazair (Catatan Delegasi) - Constantine  (Pinmas) —- Tujuan delegasi Kementerian Agama RI hadir ke Aljazair adalah menjajaki kembali kerjasama pendidikan tinggi Islam antara kedua negara. Menjajaki karena pernah ada kerjasama dalam bentuk pertukaran mahasiswa Indonesia studi ke Aljazair, dan sebaliknya mahasiswa Aljazair ke Indonesia dalam kurun 2002 hingga 2006.

Menurut informasi Munir, staf KBRI yang juga alumni program pertukaran tersebut, ada 15 mahasiswa Indonesia yang studi di Aljazair dan 7 orang mahasiswa Aljazair yang studi di beberapa perguruan tinggi di Indonesia. Di antara 15 orang tersebut, saat ini mereka menjadi dosen di IAIN Semarang, IAIN Surakarta, dan IAIN Palembang.

Kepala Biro Hukum dan Kerjasama Luar Negeri Kementerian Agama Ahmad Gunaryo yang menjadi ketua rombongan menyatakan, Aljazair menjadi target dan tujuan kerjasama karena negara ini memiliki banyak kesamaan dengan Indonesia. Kemenag RI: Memperkuat Kerjasama Pendidikan Tinggi Indonesia - Aljazair (Catatan Delegasi) -

“Aljazair adalah negara muslim terbesar di Afrika. Indonesia adalah bangsa muslim terbesar di dunia. Jika kedua negara ini bisa melakukan kerjasama yang produktif pasti dampaknya akan sangat bermanfaat bagi perkembangan Islam di dunia”, imbuhnya.

Pernyataan ini diamini oleh Duta Besar Indonesia untuk Aljazair, Ahmad Niam Salim. Alumni IAIN Yogya itu selalu menekankan pentingnya kerjasama antar kedua negara dalam setiap sambutannya di Kementerian Pendidikan Tinggi dan Riset Ilmiah, Universitas Afrika Adrar, maupun Universitas Emir Abdul Qadir Constantine. “Inisiatif kerjasama yang dilakukan KBRI mengajak Kementerian Agama tidaklah salah karena banyak bidang kerjasama pendidikan Islam yang perlu digarap bersama. Dan perguruan tinggi Islam di Indonesia harus mengambil bagian penting ini”, tutur Pak Dubes.

Kemenag RI: Memperkuat Kerjasama Pendidikan Tinggi Indonesia - Aljazair (Catatan Delegasi) - Dalam pertemuan di Universitas Adrar, delegasi Indonesia langsung mengadakan pembahasan draf MoU antar universitas yang sudah disiapkan pihak Aljazair. Rektor Universitas Adrar memimpin langsung pembahasan tersebut ditemani tim negosiatornya. Pembahasan berlangsung alot dan lama. Poin-poin yang disepakati meliputi pertukaran dosen dan mahasiswa, penelitian kolaboratif, pengembangan bahasa, dan penerbitan karya ilmiah. Poin-poin ini merupakan rincian dari draf MoU Government to Government  yang disiapkan terlebih dahulu antara Kementerian Dikti dan Riset Aljazair dan Kementerian Agama RI.

Universitas Adrar yang terletak di salah satu provinsi bagian selatan Aljazair, memiliki peringkat 47 Webometrics dunia. Pencapaian yang bagus dibandingkan dengan perguruan tinggi Islam lainnya. Pemeringkatan di Webometrics saat ini menjadi indikator penting bagi perguruan tinggi seberapa tinggi volume publikasi yang dapat diakses oleh publik. Selain itu, universitas ini juga memiliki fakultas umum yang dapat dijadikan partner bagi UIN. Karena itu, kunjungan delegasi yang terdiri dari para rektor perguruan tinggi Islam dengan Universitas Adrar membuka pintu kerjasama lebih luas.

Selain membahas draf MoU antar universitas (U to U), delegasi diberi kesempatan bertemu dengan civitas akademika Universitas Adrar dalam Sarasehan yang bertajuk “Pendidikan Islam Indonesia antara Peluang dan Tantangan”.  Direktur Pendidikan Tinggi Islam, Prof Dede Rosyada, yang berbicara sebagai narasumber, menyampaikan perkembangan tinggi Islam baik IAIN, STAIN dan UIN yang bukan saja mengkaji ilmu-ilmu Islam tapi juga ilmu-ilmu umum (ulum al-ijtimaiyah, ulum al-haditsah wa teknolojiyyah). Dalam sarasehan ini perwakilan dari NU dan Muhammadiyah diminta menyampaikan kondisi pendidikan Islam yang menjadi kewenangannya.

Kemenag RI: Memperkuat Kerjasama Pendidikan Tinggi Indonesia - Aljazair (Catatan Delegasi) - Penjajakan kerjasama dilanjutkan dengan Universitas Emir Abdul Qadir di Constantine. Universitas ini sama seperti IAIN di Indonesia, mengkaji ilmu-ilmu keagamaan seperti Qur’an, hadits, fiqh, ekonomi Islam, serta adab dan hadharah Islamiyyah. Hal menarik dari universitas ini adalah koleksi makhthuthat (manuskrip kuno) yang telah dibuat micro-film dan di-digitalisasi oleh tenaga-tenaga profesional. Koleksi manuskrip ini bahkan telah menjadi Pusat Manuskrip Nasional Aljazair, yang mengkoleksi dan mendigitalisasi seluruh manuskrip yang ada di Aljazair, termasuk museum manuskrip di Adrar yang kami kunjungi.

Kekayaan manuskrip ini menjadi nilai tambah yang oleh delegasi Indonesia dinilai penting untuk dikerjasamakan. Selama ini, perhatian perguruan tinggi Islam terhadap manuskrip terbilang rendah, untuk tidak dikatakan nihil. Padahal jumlah manuskrip keislaman Nusantara sangat besar dan tersebar di seluruh wilayah. Upaya ‘konservasi’ yang telah dilakukan Pemda, Litbang Kemenag, perpustakaan, museum, maupun usaha-usaha swasta perlu dilanjutkan dengan kajian akademik oleh perguruan tinggi Islam. “Kami berminat untuk kerjasama di bidang manuskrip dan penerbitannya”, tegas Rektor UIN Makassar, Prof Abdul Qadir Gassing menimpali penjelasan Rektor Universitas Emir saat diajak ke pusat manuskrip tersebut.

Antusiasme untuk melakukan kerjasama ditunjukkan juga oleh pihak Aljazair. Kementerian Dikti dan Riset mendukung sepenuhnya rencana kerjasama antar universitas Islam kedua negara. Kedua Rektor juga semangat untuk menindaklanjuti kerjasama ini dalam waktu dekat. Bahkan saat delegasi yang diwakili 6 Rektor UIN/IAIN presentasi di hadapan civitas akademika Universitas Emir, sambutan mereka luar biasa. Banyak pertanyaan dan tanggapan peserta yang menanyakan peluang studi dan pertukaran dosen, pelajar/mahasiswa ke Indonesia. Kemenag RI: Memperkuat Kerjasama Pendidikan Tinggi Indonesia - Aljazair (Catatan Delegasi) - 

Wakil rektor UIN Jakarta Jamhari yang mendapat giliran terakhir presentasi meyakinkan peserta bahwa Indonesia siap menerima dosen dan mahasiswa ke semua perguruan tinggi Islam. “UIN Jakarta siap menerima dosen universitas Emir yang berminat mengajar atau studi ke Indonesia. Kami akan memberi beasiswa untuk Anda”, ujar Jamhari tegas.

Melihat antusiasme pihak Aljazair, pihak Kementerian Agama akan segera menindaklanjuti penandatanganan MoU antar kedua kementerian dalam waktu yang tidak terlalu lama. “Kami akan mengundang pihak Aljazair ke Indonesia untuk menandatangani MoU. Atau sebaliknya, Menteri Agama yang akan datang ke Aljazair. Pokoknya kami siapkan semua”, tegas Direktur Diktis, Dede Rosyada, yang diamini oleh Karo HKLN Prof Gunaryo di sela-sela kunjungan di Constantine.

Delegasi Kementerian Agama  berada di Aljazair dari 24 – 29 Januari. Rombongan  ini terdiri dari Direktur Pendidikan Tinggi Islam  Dede Rosyada, Kepala Biro Hukum dan Kerjasama Luar Negeri (HKLN) Gunaryo, serta didampingi Kasubdit Kelembagaan Direktorat  Pendidikan Tinggi Islam Mastuki HS dan Kabag Kerjasama HKLN, Agus Sholeh.

Selama di Aljazair, delegasi Kemenag ini juga berkunjung ke beberapa universitas di Algier, Adrar, dan Constantine guna melihat secara dekat bagaimana kondisi universitas di wilayah tersebut. Selain itu juga juga mengunjungi Kementerian Agama dan Awqaf, Kementerian Pendidikan Tinggi dan Riset, dan pesantren Syekh Ad-Dibagi di Propinsi Adrar. Kemenag RI: Memperkuat Kerjasama Pendidikan Tinggi Indonesia - Aljazair (Catatan Delegasi) -

Comments