Kemenag RI: Menag: Kerukunan Beragama Di Indonesia Sudah Sejak 600 Tahun Lalu

Kemenag RI: Menag: Kerukunan Beragama Di Indonesia Sudah Sejak 600 Tahun Lalu - Semarang (Pinmas)— Kerukunan antar umat beragama di Indonesia sudah ada dan terbangun sejak lebih dari 600 tahun yang lalu. Demikian dikatakan Menteri Agama Suryadharma Ali saat berkunjung ke Klenteng Sam Po Kong, Semarang, Senin (03/02).

“Kerukunan antar umat beragama sejak 600 tahun yang lalu sudah terbangun di Indonesia,” ucap Menag.

“Inilah yang sebetulnya ingin digali, bahwa budaya rukun itu ternyata sudah terbangun ratusan tahun lalu,” imbuhnya.

Menag menambahkan bahwa budaya rukun sudah ada dan berkembang di berbagai pelosok daerah. In ditandai, lanjut Menag, dengan adanya istilah-istilah khusus  yang mencerminkan berkembangnya budaya kerukunan.

“Di Maluku ada Pela Gandong. Di Papua, Satu Tungku Tiga Batu. Di Sulawesi Tengah,  Losarara Losabatutu, lalu di Sulawesi Utara ada istilah Kitorang Basudara. Ini adalah budaya-budaya kerukunan yang luar biasa dan muncul sejak dulu,” terang Menag.

Menurut Menag, budaya-budaya tersebut telah terbangun di masyarakat Indonesia sejak dulu. “Bahkan, kalau kita tarik lagi ke belakang, Panglima Cheng Ho sejak 600 tahun yang lalu sudah membawa semangat kerukunan antar umat beragama,” tegas Menag.

Setelah sebelumnya mengunjungi Klenteng Tay Kak Sie, Menag mengaku berkunjung ke  Klenteng Sam Po Kong untuk membangun kerukunan antar umat beragama, selain  mendapatkan informasi mengenai sejarah perjalanan Laksamana Zheng He atau Cheng Ho dari negeri China sampai Indonesia. Diinformasikan bahwa  saat itu, Cheng Ho datang  besarta pasukannya  yang dalam bahasa China disebut cimongan, lalu masyarakat Jawa menyebutnya semarang.

Waktu itu, kisah Menag, masyarakat Semarang umumnya beragama hindu dan budha. Namun demikian, Cheng Ho datang kemari tanpa menimbulkan konflik sama sekali. “Tidak ada pertumpahan darah. Jadi banyak pelajaran yang bisa kita dapat dari kedatangan Cheng Ho,” ucap Menag.

“Cheng Ho tidak hanya dihormati masyarakat muslim saja, tetapi juga  Tionghoa,  umat Buddha, Tao, dan juga Konghuchu,” imbuhnya.

Kepada para pengunjung, Menag  berpesan agar kunjungan mereka ke Klenteng Sam Po Kong bukan untuk mensakralkan, apalagi meminta-minta sesuatu, namun  untuk mempelajari sejarahnya. Dengan demikian, masyarakat bisa lebih mengerti sejarah Islam di Indonesia. Selain itu juga dapat mengerti hubungan antara bangsa Indonesia dengan bangsa Tiongkok.

“Ternyata kita mempunyai jalinan hubungan yang sudah sangat lama,” tutupnya. (ba/mkd/mkd) Kemenag RI: Menag: Kerukunan Beragama Di Indonesia Sudah Sejak 600 Tahun Lalu -

Comments