Kemenag RI: Serasa Berhaji Membaca Tangan Tak Terlihat

Kemenag RI: Serasa Berhaji Membaca Tangan Tak Terlihat - Jakarta (Pinmas) —- Membaca buku “Tangan Tak Terlihat” karya Dirjen Penyelenggara Haji dan Umroh Kemenag Anggito Abimanyu serasa diri berhaji di Tanah Suci. Bagi umat Islam yang pernah menunaikan ibadah haji, membaca buku ini terasa sebagai obat rindu untuk hadir kembali di hadapan Baitullah, Ka’bah. Sebaliknya, bagi Muslim yang belum berhaji, dengan membaca buku tersebut, akan termotivasi untuk cepat berhaji.

Haji memang ibadah paling menarik. Tidak heran, seperti dituturkan dalam buku tersebut, setiap tahun lebih dari 200 ribu  orang dari Tanah Air bertolak ke Saudi Arabia. Belum lagi dari berbagai  negara Muslim lainnya. Mereka berbondong-bondong menginjakkan kaki dan  bersujud di Masjidil Haram dan Masjid Nabawi guna meminta ampunan dan  keridhoan Allah SWT dengan melaksanakan seluruh rangkaian ritual haji sebagaimana diajarkan Nabi Muhammad SAW.

“Labbaik Allahumma labbaik… kuterima panggilan-Mu dan kami datang mengantar para ‘dhuyufu al-rahman’ (tamu Allah Yang Maha Rahman) yang datang dari segenap penjuru Tanah Air dengan segala jerih payah, beriring air mata yang mengering terserap tangis dan deru tasbih  nan membuncah mengitari rumah-Mu di jagat-Mu, aku mengantar mereka  dengan keikhlasan hati tela kupertaruhkan..”.
Kalimat “Labbaik Allahumma labbaik” yang dikumandangkan jamaah haji ketika diperdengarkan di Tanah Air dapat menggetarkan jiwa dan hati seorang Muslim.  Pikiran dan perasaan menerawang jauh ke tanah nan tandus, terik panas matahari yang begitu menyengat, udara dingin yang berembus di malam hari.

Tanah itu memang tandus, namun penuh keberkahan, sesuai doa Nabi Ibrahim AS setelah meninggalkan isteri  dan anaknya, yakni Hajar dan Ismail.  “Ya Tuhan kami, aku telah tinggalkan anak dan isteriku di padang pasir yang tandus tiada pepohonan dan buah-buahan. Ya Tuhan kami, agar mereka mendirikan sembahyang maka jadikanlah hati manusia tertarik kepada mereka, dan berilah mereka rezeki dari buah-buahan,  mudah-mudahan mereka berterima kasih atas semua itu…”.

“Sejatinya, ‘Bahasa air mata’ tak hanya untuk lara dan nestapa. Tapi juga untuk membangun sensitivitas sosial dan lingkungan, dari kepedulian pada manusia, hewan, tumbuh-tumbuah, rumput-rumputan yang dipaksa tercabut dari akarnya, hingga tangis-tangis kecil yang nyaris tak terdengar di kiri, kanan, atas, bawah, belakang atau depan mata kita sendiri,” ungkap Anggito dalam bukunya.

Oleh Anggito, buku ini dibagi menjadi empat bagian: Pertama, Moralitas Pemimpin Haji, diuraikan secara detail latarbelakang  dirinya terdampar di jajaran Kementerian Agama, yang disebutnya sebagai tersesat ke jalan yang benar.  Dikupas pula tantangan kuota haji hingga bagaimana seharusnya melayani jemaah dan bukan minta dilayani.

Bagian kedua mengangkat tema Haji dan Inovasi Duniawi,  yang mengetengahkan dedikasi laskar Baitullah hingga ajakan komitmen dari haji pada antikorupsi.  Bagian ketiga mengangkat tema Haji dan  Orientasi Ukhrawi. Di sini dibahas soal keagungan Raudah, Nirwana Masjid Nabawi. Juga substansi dari haji sebagai penyucian diri, manusia unggul  dan para pembimbing (haji) sebagai ujung tombaknya.
Bagian akhir buku ini mengupas tentang senandung makrifat, di lingkar aura para kiai, argumentasi teologi  hingga esensi biaya haji.

Tangan Tak Terlihat?
Kenapa judul buku Tangan Tak Terlihat? “Dalam ekonomi ada istilah “Invisible Hand” atau “Tangan Tak Terlihat” yang menggambarkan kondisi pasar yang mencapai keseimbangan dengan sendirinya tanpa campur tangan,  meskipun dibantah para penganut paham Keynes, karena adanya kegagalan  pasar.

“Namun dalam haji, diyakini banyak “tangan tak terlihat” atau hidayah bahkan kemustahilan dalam perjalanan ibadah haji” ucap Anggito ketika meluncurkan buku tersebut (5/2/2014).
Sementara itu, Ketua Umum Baznas Didin Hafidhuddin menyatakan buku karya Anggito Abimanyu perlu dibaca, baik oleh yang ingin menunaikan pergi haji maupun yang sudah menunaikan  ibadah haji. Selain sebagai inspirasi meningkatkan kesalehan sosial,  buku itu juga untuk memetik hikmah dari ritual haji.

“Membaca buku “Tangan Tak Terlihat” ada aspek ritual haji yang bisa membawa manusia ke arah peradaban lebih maju dengan ditunjang ilmu,” ujar Didin. (ess/ant/mkd) Kemenag RI: Serasa Berhaji Membaca Tangan Tak Terlihat -

Comments