Kemenag RI: Wamenag; Optimalkan Fungsi Pencegahan Perceraian

Kemenag RI: Wamenag; Optimalkan Fungsi Pencegahan Perceraian - Bandung (Pinmas) – Meningkatnya angka perceraian setiap tahun yang mencapai 12,5%/ tahun membutuhkan perhatian kita sebagai warga bangsa. Peran Kementeian Agama sangat besar untuk mengoptimalkan fungsi pencegahan terjadinya perceraian. Hal itu disampaikan Wakil Menteri Agama (Wamenag) Nasaruddin Umar ketika menutup Rapat Kerja Nasional Kemenag Tahun 2014 di Bandung, Minggu (9/2).

Menurut Nasaruddin Umar, bila terjadi perceraian pasti terjadi persoalan sosial yang dampaknya sangat jauh antara lain adalah akan terjadi orang miskin baru setiap kali ada perceraian. Orang miskin  baru, yaitu ibu dan anaknya, Nasaruddin mengilustrasikan karena pemilik surat-surat penting biasanya laki-laki, memang ada gono gini tetapi itu belum aktual di dalam pengadilan kita.
“Karena itu, peran Kemenag sangat besar dalam mengoptimalkan fungsi pencegahan perceraian ini,” kata Nasaruddin.

Dalam pandangan Nasaruddin, masalah ini menarik untuk dikaji, karena dampak perceraian itu sangat luas, apalagi kalau kita bicara 80% perceraian itu adalah pasangan usia muda dengan usia di bawah 25  tahun ke bawah, dan potensi konflik horizontal pasangan usia muda itu lebih sensitif.
Wamenag juga prihatin dengan menggejalanya sinkretisme, menurutnya, sinkretisme ini banyak wajahnya, atas nama peningatan pendapatan asli daerah (PAD) sehingga pariwisata sinkretisme berkembang.

Kemenag RI: Wamenag; Optimalkan Fungsi Pencegahan Perceraian - 
“Apakah kita boleh mendapatan keuntungan dengan mewujudkan kegiatan bid’ah, khurafat, sinkretisme itu, di sini peran Kemenag sangat penting,” ujar Nasaruddin.

Di samping itu Nasaruddin dalam arahannya menyampaikan masalah pornografi dan pornoaksi. Angka-angka statistik menunjukkan kondisi yang sangat memprihatinkan, terutama melalui internet. Wamenag meminta ini harus menjadi concern bersama walaupun tidak menjadi keputusan rakernas, karena beban kita dan jiwa kita di sini.

Wamenag mengingatkan bahwa sebagai pejabat keagamaan diminta juga untuk 24 jam merasakan denyut keberadaan kondisi umat kita. Menurutnya, selama umat berjarak dengan ajaran agamanya maka tugas kita belum begitu bagus. Sekalipun pertanggungjawabannya sedemian rapi, tapi kalau umat dan jaran agamanya berjarak jauh, itu kita tidak berhasil.

“Karena itu kreteria ganda yang harus kita lakukan dalam lingkungan birokrasi, satu sisi pertangungjwaban kita harus bagus, tapi sisi lain juga umat kita harus semakin menyempit, menyatu antar ajaran dan pemahaman agamanya,” ujar Wamenag.

Dalam arahannya, Wamenag juga menilai bahwa keputusan Rapat Kerja Nasional (Rakernas) sangat mengindonesia. Indonesia sangat luas, sangat kompleks dan sangat berbeda satu sama lain. Hasil rakernas secara teoritis sudah sangat bagus, langkah kita ke depan apakah teori itu akan menjadi kenyataan?.

“ Power itu ada di tangan kita,” pungkas Wamenag. (dm/dm). Kemenag RI: Wamenag; Optimalkan Fungsi Pencegahan Perceraian -

Comments