Berita Kemenag: Kemenag Diminta Himpuh Tindak Provider Visa ke Travel Ilegal

Berita Kemenag: Kemenag Diminta Himpuh Tindak Provider Visa ke Travel Ilegal
Kamis, 13 Maret 2014 20:09 WIB TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Himpunan penyelenggara umrah dan haji (Himpuh), mendesak Kementerian Agama untuk menindak provider visa umrah yang memfasilitasi travel ilegal. Sehingga dapat menyelenggarakan umrah. Namun hal itu justru membuat jamaah gagal berangkat, bahkan terlantar di Arab Saudi.

Ketua Umum Himpuh Baluki Ahmad menyatakan, pihaknya sangat prihatin dengan seringnya jamaah umrah yang gagal berangkat atau terlantar tersebut.

"Hampir setiap hari selalu ditemukan ada jamaah yang gagal berangkat, atau bahkan berangkat namun terlantar di Arab Saudi dan tidak bisa pulang karena tidak punya tiket," kata Baluki disela-sela acara silaturahmi Himpuh dan Dirjen Penyelenggara Hajiu dan Umrah (PHU) Kemenag Anggito Abimanyu di Jakarta, Kamis (13/3/2014).






Berita Kemenag: Kemenag Diminta Himpuh Tindak Provider Visa ke Travel Ilegal
Baluki menyebutkan, setiap bulannya tak kurang dari 50 ribu jamaah asal Indonesia yang berangkat ke Tanah Suci untuk menunaikan ibadah Umrah. Dari sekian banyak jamaah itu, beberapa diantaranya diberangkatkan oleh biro penyelenggara Umrah tidak berizin. Mereka mendapatkan visa Umrah melalui provider viusa yang tidak memeriksa kelengkapan izin umrah.

Menurut Baluki, modus yang dilakukan travel ilegal ini dalam menjual paket murah antara Rp 9 juta sampai Rp 14 juta, tapi menunggu diberangkatkan pada tahun berikutnya.

"Banyak masyarakat tergiur dengan tawaran paket atau program umrah dengan harga yang sangat murah," kata Baluki.

Dirinya berharap Kemenang melalui Dirjen PHU bisa menindak tegas provider visa tersebut, atau biro penyelenggara umrah yang dikategorikan nakal.

"Tanpa ada sanksi atau tindakan tegas kepada provider visa dan penyelenggara ilegal, maka praktek tersebut akan semakin menjamur dikemudian hari," ujarnya.Berita Kemenag: Kemenag Diminta Himpuh Tindak Provider Visa ke Travel Ilegal

Comments