Bimas Katolik: Menimbang Sesuatu Memerlukan Rujukan

Bimas Katolik:  Menimbang Sesuatu Memerlukan Rujukan

Kehidupan ibarat sebuah arena permainan yang tanpa batas. Mestinya karena tanpa batas, maka setiap orang dapat dengan bebas melakukan apa saja yang diinginkannya. Ternyata tidak harus demikian. Setidaknya dua hal yang perlu diperhatikan yaitu diri sendiri dan yang bukan diri sendiri. Diri sendiri mencakup seperti apa saya, kemampuan saya sejauhmana. Yang bukan diri sendiri mencakup lingkungan atau dunia luar. Dalam ilmu psikologi mungkin dapat disejajarkan dengan term ego [e] dan alter [a]. E dan A akan saya sebut dengan dimensi atau aspek (saya akan gunakan kata itu secara bergantian).

Perjuangan mencapai atau mewujudkan sesuatu tidak lepas dari mimpi. Mimpi menyimpan tenaga yang luar biasa, yang mampu mendrive manusia tanpa batas ke titik kulminasinya. Seringkali orang menjadi lupa keterbatasan fisik yang dimiliki. Jika ditanya apa tanggapan orang, maka akan dijumpai jawaban beragam. Saya tidak mau masuk ke jawaban multi tafsir itu. Saya ingin menekankan bahwa ketika seseorang ingin mencapai cita-cita hidupnya, maka apapun akan dilakukan. Keyakinan diri tidak jarang menjadi alat ukur bagi seseorang. Ini tentu tidak salah. Yang justru perlu diingatkan kembali, usaha mencapai tujuan hidup menggunakan frame apa. Dalam ilmu sosial dikenal istilah binary opposition. Dunia dilihat dalam dua tataran, atas-bawah, baik-buruk, hitam-putih, sakral-profan, dsb. Kalau cara pikir ini kita gunakan, maka makna homili Minggu 2 Februari 2014 mengenai penampakan [atau mungkin penampilan] Yesus di muka umum relevan untuk menjadi bahan permenungan.

Menggerakkan masyarakat, termasuk masyarakat Katolik, dewasa ini tidak mudah. Para guru pendidikan agama katolik dan juru penerang agama katolik yang dapat dikategorikan sebagai garda depan dalam memberikan kesaksian hidup kristiani diharapkan semakin hari semakin kapabel, memiliki pengetahuan dan pemahaman iman yang kuat dan kokoh. Berikut ini saya coba upload sebuah bahan homili dari seorang Oblat, Pastor Gregorius Basir Karimanto, OMI. Beliau adalah salah satu di antara sekian pastor yang menyampaikan homili dengan persiapan tertulis (yang dibawakan tidak kaku, tetap memperhatikan situasi dan kondisi semasa). Untuk para juru penerang, mungkinkah bahan ini dapat menjadi (tawaran) satu topik dalam rangkaian rencana kerja? Mudah-mudahan bermanfaat. Selamat menikmati.

JADILAH ORANG BERIMAN DAN TAATILAH FIRMANNYA
Bacaan: Luk 2:22-40


1. Empat puluh hari setelah kelahiran.
Hari ini adalah hari raya Yesus dipersembahkan di Bait Allah. Ini adalah hari raya untuk memperingati Yesus dipersembahkan di Bait Allah oleh Yosef dan Maria, Setelah 40 hari kelahirannya. Pesta Yesus dipersembahkan di Bait Allah sebenarnya adalah gabungan 2 hal, yakni memperingati praktek penyucian wanita yang baru saja melahirkan dan persembahan anak kepada Allah di Bait Allah. Perayaan ini dikenal dengan nama pesta penyucian Maria dan pesta Candlemas. Biasanya ada pemberkatan lilin sebagai simbol terang. Tetapi perayaan ini juga sering disebut perayaan "pertemuan" karena bayi Yesus, mewakili Perjanjian Baru bertemu dengan Simeon dan Hana mewakili Perjanjian Lama. Yosef mempersembahkan 2 ekor burung merpati di Bait Allah sebagai korban penyucian Maria setelah melahirkan dan untuk korban tebusan untuk bayi Yesus.

Perayaan ini dimulai di Yerusalem pada abad 5 dan menyebar sampai ke Roma pada pertengahan abad 6, dalam Bahasa Yunani perayaan ini disebut Hy-papante.

Kelahiran Yesus diwahyukan kepada tiga jenis saksi dalam tiga cara yang berbeda. Pertama, diberitakan oleh para malaikat kepada para gembala di padang Efrata; kedua diwahyukan kepada orang-orang Majus melalui bintang; ketiga diwahyukan kepada Simeon dan Hana melalui Roh Kudus. Kutipan injil hari ini menggambarkan Yesus yang dipersembahkan di Bait Allah dan disambut oleh Simeon dan Hana.

Injil menggambarkan bagaimana Yosef sebagai kepala keluarga, mempersembahkan Maria dan bayi Yesus di Bait Allah untuk penyucian atau pentahiran Maria dan penebusan Yesus anak sulungnya. Menurut Kitab Imamat wanita yang melahirkan menjadi tidak bersih selama 40 hari setelah melahirkan anak laki-laki atau 80 hari setelah melahirkan anak perempuan. Meskipun sebenarnya Maria, dikecualikan dari aturan itu, karena ia tidak bernoda dan mengandung karena mukjijat Roh Kudus, namun ia tetap memutuskan untuk tunduk kepada hukum Musa seperti wanita Yahudi lainnya. Berkaitan dengan persembahan anak lelaki sulung, kitab Keluaran mengatakan bahwa setiap anak lelaki sulung menjadi milik Allah dan harus dikhususkan bagi Allah, dan dipersembahkan bagi pelayanan Bait Allah. Meskipun demikian, pelayanan Bait Allah telah dikhususkan bagi suku Lewi, maka setiap anak sulung yang bukan dari suku Lewi tidak lagi dipersembahkan bagi pelayanan Bait Allah, dan untuk memperlihatkan bahwa mereka tetap menjadi milik Allah, maka harus dilakukan ritus penebusan. Untuk penebusan, hukum Musa memerintahkan agar bangsa Israel mempersembahkan korban seekor domba untuk keluarga yang punya dan sepasang burung merpati untuk keluarga miskin. Kitab Bilangan mengajarkan bahwa karena setiap anak sulung laki-laki bangsa Yahudi menjadi milik Allah, orang tua harus membeli kembali atau menebus si anak dengan mempersembahkan seekor domba atau burung merpati sebagai korban di Bait Allah. Harga tebusan bagi seorang anak adalah 5 shekel perak. Sebenarnya Yesus tidak pernah perlu ditebus kembali karena Ia sepenuhnya milik Allah. Meskipun demikian Yosef sebagai orang Yahudi yang saleh tetap mematuhi hukum Musa yang mengaturnya, sebagai ungkapan ketaatannya kepada Allah. Inilah ungkapan ketaatan iman dan rasa takut Yosef kepada Allah serta ungkapan kerendahan hatinya di hadapan Allah. Yosef mengikuti jejak nenek moyangnya Abraham, yang sangat taat kepada Allah. Kitab Suci melaporkan bahwa Abraham 2 kali menaati firman Allah tanpa ragu, yakni ketika ia diperintah Allah untuk meninggalkan tanah kelahirannya dan sanak saudaranya dan pindah ke tempat yang belum diketahui dan ketika ia diperintahkan Allah untuk mengorbankan Ishak anak tunggalnya.

Saudara-saudara, tidak banyak orang yang menjalani hidup iman seperti Yosef, seperti Maria, seperti Simeon, seperti Hana, seperti Abraham dan tokoh iman lainnya. Banyak orang beriman yang tidak taat pada firman Allah, termasuk anda dan saya yang rajin mengikuti misa setiap minggu. Saya yakin kita telah mengabaikan banyak firman Allah. Sebagai contoh, Tuhan Yesus bersabda agar kita tidak usah kawatir akan makanan dan pakaian, tetapi kita masih selalu kawatir. Tuhan Yesus bersabda, kita percaya kepada-Nya karena Ia pergi untuk, menyiapkan tempat bagi kita, tetapi kita masih kurang percaya. Dan masih banyak lagi sabda Tuhan yang kita abaikan.
Bimas Katolik:  Menimbang Sesuatu Memerlukan Rujukan
Banyak orang beriman yang tidak mengembangkan rasa takut kepada Allah seperti dilakukan oleh Abraham, Yosef, Maria, Simeon, Hana dan tokoh iman lainnya. Bahkan banyak juga orang yang kelihatannya saleh tetapi tidak takut akan Allah. Saya sangat heran dengan cara hidup beriman para pejabat yang korupsi dan para koruptor lainnya. Dari para koruptor yang tertangkap KPK dan sedang dalam proses penyelidikan, tampak bahwa mereka sangat nekat dalam melakukan kejahatan. Apakah mereka tidak takut terhadap Allah yang dapat membunuh badan dan membunuh jiwa? Yosef adalah teladan bagi kita bagaimana hidup beriman yang sejati. Ia taat kepada firman Allah dan mengembangkan rasa takut kepada Allah.

Yosef juga mengajarkan rasa takut kepada Allah itu kepada Yesus putranya, sehingga ia menjadi penuh hikmat. Jaman sekarang ini banyak orangtua yang tidak mengajarkan kepada anak-anaknya untuk tacit kepada Allah. Jaman sekarang banyak orangtua yang gagal membimbing anak-anaknya menjadi anak-anak beriman dan saleh. Mereka sudah merasa sukses bila anaknya pintar dan memperoleh gelar dan kemudian menjadi orang kaya. Memperoleh gelar dan menjadi kaya menurut dunia belum cukup, mereka juga harus saleh dan berintegritas. Orang yang mempunyai integritas adalah orang yang takut akan Allah.

Jangan salah ya. Rasa takut terhadap Allah, bukan ketakutan yang membuat kita kegemetaran tidak berdaya, tetapi yang membuat kita kagum dan terpesona. Kita kagum karena Allah mahabesar, dan kita kecil saja; Allah mahatahu dan kita hanya tahu sedikit saja. Pada waktu kita menyadari bahwa kita kecil, bahwa kita tidak berdaya, bahwa kita berdosa, saat itulah kita miskin dihadapan Allah, dan kita berbahagia seperti yang disabdakan oleh Yesus sendiri: "Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah."

Dalam Kitab Suci banyak uraian tentang takut akan Allah. Kitab Amsal menulis demikian: "Permulaan hikmat adalah takut akan Allah." (Ams 9:10). Kitab Mazmur menulis demikiaan: "Takut akan Allah itu suci, tetap ada untuk selama-lamanya, hukum-hukum Tuhan itu benar, adil semuanya." (Mzm 19:10). Ada juga ayat Mazmur yang berbunyi: "Berbahagialah orang yang takut akan Tuhan, yang sangat suka kepada segala perintahNya." (Mzm 112:1) Ada juga ayat dalam Kitab Amsal yang berbunyi : "Takut akan Allah memperpanjang umur, tetapi tahun-tahun orang fasik diperpendek." (Ams 10:27). Artinya orang yang takut akan Allah berusaha hidup sebaik mungkin, menjaga kesehatannya sebaik mungkin, bukannya makan narkotika, minum alkohol atau cukrik, tetapi berusaha hidup sehat. Nah, Yosef adalah orang beriman yang takut akan Allah seperti yang terungkap dalam kitab Mazmur dan kitab Amsal tadi. Orang yang takut akan Allah akan taat pula kepada semua aturan bersama dalam kehidupan bermasyarakat. Nah, apakah anda takut akan Allah? Apakah anda taat kepada hukum? Apakah anda taat pada aturan hidup bersama? Apakah para pejabat kita taat pada hukum? Banyak yang melanggar hukum dan berada di atas hukum. Itukah perwujudan iman orang yang taat akan Allah? Bukan! Orang yang takut kepada Allah, taat kepada hukum dan aturan kehidupan bersama.


2. Perjumpaan dengan Simeon.
Baik! Sekarang bagaimana dengan Simeon? Simeon adalah orang saleh dan dipenuhi Roh Kudus yang telah lama menantikan keselamatan. Siang malam mereka setia menantikan Mesias di Bait Allah. Akhirnya penantiannya yang panjang mendapat jawaban dari Allah. Ia dengan bayi Yesus. Simeon selalu ada di Bait Allah karena menaati nubuat nabi Maleakhi yang berbunyi: "Tuhan yang kamu nanti-nantikan segera akan datang ke kenisahNya." Simeon dan banyak orang Yahudi lainnya mengira bahwa Mesias akan datang ke kenisah dalam wujud tokoh istimewa. Meskipun demikian karena petunjuk Roh Kudus Simeon dapat mengenali bayi Yesus adalah Mesias. Maka ketika ia menatang bayi Yesus, ia menyadari bahwa bayi umur 40 hari yang ia tatang di tangannya itu adalah Mesias yang dijanjikan Allah, sang Penghibur Israel, terang bangsa-bangsa. Simeon melalui bimbingan Roh Kudus mengenali Yesus sebagai yang diurapi Tuhan. Itulah sebabnya ia merasa bahagia dan merasa lega. Kebahagiaan dan kelegaannya itu ia ungkapkan dalam pujian. Ia berkata: "Sekarang Tuhan, perkenankanlah hambamu berpulang dalam damai sejahtera, menurut sabdaMu. Sebab aku telah melihat keselamatan yang Kausediakan dihadapan segala bangsa. Cahaya untuk menerangi para bangsa dan kemuliaan bagi umatMu Israel." Kidung Simeon ini sekarang kita doakan setiap doa malam sebagai ungkapan siap berpulang kepada Allah seperti Simeon.

Kidung Simeon adalah suatu nubuat. Kalau kita perhatikan dengan cermat, kidung tadi terdiri dari 2 stansa; stansa pertama memuat ucapan syukur atas suka-citanya karena diijinkan melihat Mesias. Stansa kedua nubuat dan pujian atas berkat Allah yang dibawa serta oleh Mesias bagi Israel dan semua orang. Kidung Simeon tadi menggarisbawahi kenyataan bahwa Kristus membawa penebusan kepada semua orang seperti yang telah dinubuatkan dalam kitab-kitab Perjanjian Lama.

Selain menyampaikan pujian, Simeon juga memberkati Maria. Ia mengingatkan dia bahwa anaknya akan menjadi sumber atau tanda pertentangan dan jiwanya akan ditembus oleh pedang. Simeon menubuatkan baik keselamatan universal yang akan dinyatakan oleh Yesus dan perlunya penderitaan dalam perutusan Mesias. Jiwa Maria benar-benar tertikam ketika menyaksikan anaknya disalibkan. Yesus datang untuk membawa keselamatan kepada semua orang, tetapi ia juga akan menjadi sumber pertentangan karena banyak orang akan menolak Dia, dan penolakan itu akan menjadi sumber kehancuran bagi mereka. Tetapi bagi orang-orang yang menerima Dia dalam iman, Yesus akan menjadi keselamatan mereka, membebaskan mereka dari dosa dan membangkitkan mereka untuk hidup kekal. Bunda Maria dan Yosef heran, bukan karena mereka tidak mengetahui siapakah Kristus, tetapi karena cara-cara Allah mewahyukan diriNya.

Saudara-saudara, Simeon mengatakan hal yang kebenarannya, tidak dapat disangkal. Tidak ada kebahagiaan tanpa penderitaan. Derita dan bahagia jaraknya sangat dekat. Seorang petenis merayakan kebahagiaan atas kemenangannya dengan menangis, padahal menangis adalah berkonotasi duka. Seorang atlit latihan dengan keras agar menang dalam pertandingan dan merayakan kemenangan dengan suka-cita. Seorang wanita melahirkan dengan penderitaan yang besar, tetapi setelah anaknya lahir dia tertawa. Penderitaan dan kebahagiaan adalah pasangan yang serasi, maka jangan serta merta menolak kesulitan dan penderitaan. Kesulitan dan penderitaan adalah bumbu sukacita dan kebahagiaan. Penderitaan dan kesulitan membuat anda cerdas dan kuat. Yang penting bukan penderitaan dan kesulitan yang anda hadapi, tetapi cara dan sikap anda menghadapi. Jadikanlah penderitaan dan kesulitan sebagai sarana memurnikan, seperti api yang memurnikan emas.


3. Paradoks keterberkati.
Nah, sekarang bagaimana dengan Maria? Maria terberkati menjadi Bunda Putra Allah. Berkat ini sekaligus menjadi pedang yang menembus jiwanya, ketika menyaksikan anaknya mati di salib. Suatu cara kematian yang sangat mengerikan. Pedang yang disebut-sebut oleh Simeon menyatakan bahwa Maria berkaitan langsung dengan karya penebusan PutraNya. Pedang itu menunjukkan bahwa Maria akan mengambil bagian dalam penderitaan Putranya. Penderitaannya adalah penderitaan yang sangat mendalam, yang akan menembus jiwanya. Penderitaan Tuhan di salib karena dosa kita, dan dosa-dosa itulah yang menusuk jiwa Maria bagaikan sebilah pedang. Itulah sebabnya setiap kali Maria menampakkan diri ia selalu menyerukan pertobatan. Maria menerima baik mahkota sukacita maupun pedang-pedihan. Meskipun demikian sukacitanya tidak pernah hilang karena kepedihannya karena selalu dikobarkan oleh iman, harapan dan kepercayaan kepada Allah dan janji-janjinya. Yesus berjanji kepada para murid-Nya: "Tidak ada seorang pun yang dapat merampas kegembiraanmu itu daripadamu."(Yoh 16:22). Tuhan memberi kita sukacita ilahi yang memungkinkan kita menanggung dukacita atau penderitaan di mana baik kehidupan maupun kematian tidak dapat mengambilnya. Itulah sukacita karena iman, bukan sukacita karena alkohol, atau lawakan, atau karena leluconnya Mr. Bean. Sukacita karena iman diungkapkan dengan pujian, bukan dengan tertawa terbahak-bahak. Mengapa demikian? Tuhan bertahta di atas semua pujian dan rasa syukur. Itulah sebabnya Paulus menasihatkan kita: "Bersyukurlah kepada Allah dalam segala hal."


4. Perjumpaan Hana dan kesaksiannya tentang Mesias.
Nah, sekarang bagaimana dengan Hana? Hana adalah seorang janda berumur 80 tahun, yang menghabiskan waktunya di Bait Allah dengan puasa dan doa, sambil menantikan kedatangan Mesias. Ia tidak jauh beda dengan Simeon. Ia diberi ganjaran sukacita boleh melihat penebusnya dalam wujud seorang bayi umur 40 hari. Ia sangat bersukacita dan memuji Allah dan memperkenalkan bayi itu kepada orang-orang yang ada di sekitarnya sebagai Mesias yang dijanjikan. Harapan ilahi Hana tumbuh bersama doa dan umur. Hana benar-benar wanita dengan harapan besar dan penantian yang sabar bahwa Allah akan menepati janji-janjiNya. Ia adalah model orang yang mempunyai harapan ilahi sambil tetap tumbuh menjadi tua. Tumbuh menjadi tua adalah karunia Allah. Maka saya sering heran kalau ada orang takut menjadi tua, bahkan berusaha tampil muda dengan rekayasa, seperti tarik kulit wajah agar tetap kencang. Atau menyemir rambut. Tidak dapat dibohongi. Kulit wajah boleh saja kencang, tetapi telapak tangan keriput.

Memang, tumbuh menjadi tua dan keputusasaan dalam hidup dapat dengan mudah membuat orang menjadi sinis dan tanpa harapan jika kita tidak menempatkan harapan kita di tempat yang benar. Harapan Hana dalam Allah dan janji-janjiNya tumbuh bersama umurnya. Ia tidak pernah berhenti mengabdi Allah dalam iman dan berdoa dalam harapan. Harapan dan imannya dalam janji-janji Allah mengobarkan semangatnya yang tidak pernah tertidur dan tekun dalam doa dan pelayanan kepada umat Allah. Simeon dan Hana selalu ada di Bait Allah untuk melayani di Bait Allah, bukan duduk-duduk kosong seperti yang sering kita lihat di gereja kita.

Kita tumbuh dalam harapan dengan menempatkan kepercayaan kita pada janji Yesus dan percaya bukan kepada kekuatan kita sendiri, tetapi dalam rahmat dan bantuan Roh Kudus. Pertanyaannya adalah, orang semacam Hana? orang semacam Simeon? orang semacam Abraham? orang semacam Zakaria dan Elizabeth? Jaman sekarang, jarang. Orang jaman sekarang mudah kecewa, karena harapannya digantungkan pada dunia bukan kepada Allah dan janji-janjinya.

Nah, jadilah orang beriman dan orang yang takut akan Allah. Dan gantungkanlah harapan anda kepada Allah bukan kepada pemimpin politik, orang pintar atau yang lain. Tuhan memberkati.
Bimas Katolik:  Menimbang Sesuatu Memerlukan Rujukan

Comments