Haji Kemenag: Standar Baru Kesehatan JCH

 Haji Kemenag: Standar Baru Kesehatan JCH

    Cetak   
    Email   

Detail
    Diterbitkan pada Sabtu, 15 Maret 2014 10:14
    Redaksi Online / Windy Siska

 Haji Kemenag: Standar Baru Kesehatan JCHJAKARTA - Kementerian Kesehatan (Kemenkes) bersama Kementerian Agama (Kemenag) sedang merancang standar baru kesehatan jemaah calon haji (JCH). Standar baru ini diklaim bakal lebih detail ketimbang yang berlaku saat ini. Standar baru ini diharapkan bisa diterapkan untuk haji periode 2014.
          Wamenkes Ali Ghufron Mukti mengatakan, secara umum pelaksanaan haji oleh pemerintah Indonesia merupakan yang terbaik di dunia.

Diantara indikasinya adalah, angka kematian haji periode 2013 turun 50 persen ketimbang periode 2012. “Kami akan terus memperbaiki, khususnya soal istitoah (kemampuan, red) segi kesehatan,” katanya di Jakarta kemarin.
          Ghufron menuturkan, selama ini ketentuan tentang standar kelayakan kondisi kesehatan JCH sudah ada dan berlaku internasional. Diantaranya JCH tidak boleh menderita tuberculosis. Guru besar Universitas Gadjah Mada (UGM) Jogjakarta itu mengatakan, petugas medis yang memeriksa JCH sering kesulitan karena panduannya bersifat umum. Sehingga perlu dibuat aturan atau kriteria teknis kesehatan JCH yang layak terbang ke Arab Saudi.
          Dengan sistem baru itu, diharapkan screening JCH bakal lebih ketat. Sehingga kasus JCH melahirkan di Arab Saudi seperti tahun lalu, tidak terulang lagi. Ghufron juga meminta seluruh JCH jujur saat memeriksakan kondisi kesehatannya ke petugas medis. Haji Kemenag: Standar Baru Kesehatan JCH
          Ghufron menuturkan, dalam prakteknya ada JCH yang nekat berhaji meskipun kondisi kesehatannya tidak memenuhi persyaratan. Alasannya ingin meninggal dengan tenang di Makkah atau Madinah.   
          Sementara itu, Wakil Menteri Agama (Wamenag) Nasarudin Umar menuturkan, pada dasarnya ibadah haji itu wajib. “Tetapi pada kondisi tertentu, berhaji itu bisa menjadi makruh bahkan haram,” kata dia.
          Nasarudin mengatakan, berhaji bisa menjadi haram jika dilakukan dengan membahayakan keselamatan dirinya. Seperti terkait dengan kondisi penyakit kronis yang sedang diderita. Kemudian berhaji juga menjadi haram ketika memaksakan kondisi keuangan yang sebenarnya tidak ada.
          “Masyarakat terkadang tidak utuh memahami syarat istitoah dalam berhaji,” ujarnya. Nasarudin mencontohkan ada JCH yang menjual sawahnya untuk mendaftar. Kemudian sepulang dari haji, kebingungan menafkahi keluarganya karena sudah tidak memiliki sawah lagi. (wan) Haji Kemenag: Standar Baru Kesehatan JCH

Comments