Menumbuhkan Wawasan Kebangsaan Melalui Praktik Dhamma

”MENUMBUHKAN WAWASAN KEBANGSAAN MELALUI PRAKTIK DHAMMA”
Majelis Agama Buddha Theravada Indonesia
Oleh : PMy. Suwarno, ST., MM.
07 September 2017 @Vihara Vimalakirti
Kegiatan Pembinaan Siswa Sekolah Minggu Buddha
Kantor Kementerian Agama Kabupaten Karimun
Profil
Probolinggo, Mei 1976
Jobs : Dosen Sistem Informasi UIB (2000-now)
Pengalaman organisasi :
Dewan Kepanditaan Daerah MAGABUDHI Kepri
Wakil Sekretaris - FKUB Kota Batam

(Dhammapada 3-4)
"Ia menghina saya, ia memukul saya, ia mengalahkan saya, ia merampas milik saya". Selama seseorang masih menyimpan pikiran-pikiran seperti itu, maka kebencian tak akan pernah berakhir.
"Ia menghina saya, ia memukul saya, ia mengalahkan saya, ia merampas milik saya". Jika seseorang sudah tidak lagi menyimpan pikiran-pikiran seperti itu, maka kebencian akan berakhir.

Dimensi Realitas dari PANCASILA
1. Sila Ketuhanan Yang Maha Esa

Kitab Udana VIII : 3 
“Para bhikkhu, ada Yang Tidak Dilahirkan, Tidak Menjelma, Tidak Tercipta, Yang Mutlak. Para bhikkhu, bila tidak ada Yang Tidak Dilahirkan, Tidak Menjelma, Tidak Tercipta, Yang Mutlak, maka tak ada kemungkinan untuk bebas dari kelahiran, penjelmaan, pembentukan, pemunculan dari sebab yang lalu. Tetapi, para bhikkhu, karena ada Yang Tidak Dilahirkan, Tidak Menjelma, Tidak Tercipta, Yang Mutlak, maka ada kemungkinan untuk bebas dari kelahiran, penjelmaan, pembentukan, pemunculan dari sebab yang lalu”

Kitab Udana VIII : 3 
“Atthi bhikkhave ajatam abhutam akatam asankhatam, no ce tam bhikkhave abhavisam ajatam abhutam akatam asankhatam, nayidha jatassa bhutassa katassa sankhatassa nissaranam paññayetha. Yasma ca kho bhikkhave atthi ajatam abhutam akatam asankhatam, tasma jatassa bhutassa katassa sankhatassa nissaranam paññaya’ti ”

Prasasti Batu Kalinga No. XIII dari Raja Asoka (abad III SM) : 
“ … janganlah kita menghormati agama sendiri dan mencela agama orang lain tanpa sesuatu dasar yang kuat…. Sebaliknya agama orang lain pun hendaknya dihormati atas dasar-dasar tertentu. Dengan berbuat demikian, kita telah membantu agama kita sendiri untuk berkembang, disamping menguntungkan pula agama orang lain. Dengan berbuat sebaliknya, maka kita telah merugikan agama kita sendiri, disamping merugikan agama orang lain….. Oleh karena itu, kerukunanlah yang dianjurkan, dengan pengertian bahwa semua orang hendaknya mendengarkan dan bersedia mendengarkan ajaran yang dianut orang lain. “

2. Sila Kemanusiaan yang Adil dan Beradab

Kitab Samyutta Nikaya I:75 : 
“Sabba disa anuparigamma cetasa, Nevajjhaga piyataramattana kvaci, Evam piyo putthu atta paresam“ 
“Bila kita mengarungi dunia dengan pikiran, maka kita menemukan bahwa diri sendirilah yang paling kita cintai. Karena tidak ada lain yang dicintai oleh seseorang selain dirinya sendiri, maka perhatikan dan hormatilah orang lain seperti kamu mencintai dirimu sendiri “

“Brahmavihara“ - “Empat Keadaan Batin Luhur“, yaitu : 

“Metta“ yang berarti cinta kasih universal, suatu sikap batin yang mengharapkan kesejahteraan dan kebahagian semua mahluk hidup tanpa membeda-bedakan sedikitpun. 
“Karuna“ yang berarti welas asih, suatu sikap batin kasihan yang timbul apabila melihat penderitaan mahluk hidup lain dan berhasrat untuk menghilangkan atau meringankan penderitaannya. 
“Mudita“ yang berarti simpati, suatu sikap batin gembira yang timbul apabila melihat keberhasilan orang lain. 
“Upekkha“ yang berarti keseimbangan batin, suatu sikap batin yang seimbang dalam segala keadaan oleh karena menyadari bahwa setiap mahluk hidup memetik hasil dari perbuatannya sendiri

3. Sila Persatuan Indonesia
Kitab Khuddaka Nikaya, Cariyapitaka 33 / 595 : 
“Vivadam bhayato disva avivadañca khemato, Samagga sakhila hotha esa buddhanusasani“
 yang artinya “Dengan melihat bahaya pertengkaran dan rasa aman yang timbul dari sikap menghindari pertengkaran, hendaklah seseorang bersikap menunjang persatuan dan kesatuan kelompok. Inilah ajaran Sang Buddha“. 

Kitab Dhammapada 194 : 
“Sukha sanghassa samaggî, samangganam tapo sukho“ 
yang artinya “ Berbahagialah mereka yang dapat bersatu, berbahagialah mereka yang tetap dalam persatuan“

3. Sila Persatuan Indonesia
Persatuan, kesatuan, kepentingan dan keselamatan negara diatas kepentingan pribadi atau golongan. Hak asasi manusia sebagai pribadi adalah hak asasi warga negara bukan hak yang terlepas-lepas
Mengutamakan kepentingan bangsa dan negara diatas kepentingan pribadi, golongan ataupun kelompok secara suka rela dengan dilandasi rasa cinta kasih kepada tanah air dan bangsa.

4. Sila Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyaratan / Perwakilan 

Kitab Dîgha Nikaya, Maha Parinibbana Sutta : 
“ …Kinti te ananda suttam vajjî samagga sannipatanti samagga vutthahanti samagga vajjîkaranîyani karontî’ti. Suttam me tam bhante vajjî samagga sannipatanti samagga vutthahanti samagga vajjîkaranîyani karontî’ti. Yavakîvañca ananda vajjî samagga sannipatanti samagga vutthahanti samagga vajjîkaranîyani karissanti, vuddhiyeva vajjînam patikankha no parihani. “ 

4. Sila Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyaratan / Perwakilan 

Kitab Dîgha Nikaya, Maha Parinibbana Sutta : 
yang artinya “Apakah engkau pernah mendengar, Ananda, bahwa kaum Vajji bermusyawarah dan mengakhiri permusyawaratan mereka secara damai, serta menyelesaikan urusan-urusan mereka dalam suasana kerukunan ? Demikianlah yang saya dengar, bhante, bahwa kaum Vajji bermusyawarah dan mengakhiri permusyawaratan mereka secara damai, serta menyelesaikan urusan-urusan mereka dalam suasana kerukunan. Selama kaum Vajji bermusyawarah dan mengakhiri permusyawaratan mereka secara damai, serta menyelesaikan urusan-urusan mereka dalam suasana kerukunan, Ananda, maka dapatlah diharapkan perkembangan mereka, dan bukan keruntuhan. “

4. Sila Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyaratan / Perwakilan 
Seluruh rakyat Indonesia termasuk umat Buddha didalamnya sebagai warga negara dan warga masyarakat Indonesia yang mempunyai kedudukan, hak dan kewajiban yang sama dengan warga negara Indonesia lainnya.
Sebelum diambil keputusan yang menyangkut kepentingan bersama, terlebih dahulu diadakan musyawarah. 
Setiap keputusan yang diambil harus dapat dipertanggung jawabkan secara moral, menjunjung tinggi harkat dan martabat manusia, serta nilai-nilai kebenaran dan keadilan, mengutamakan persatuan dan kesatuan, demi kepentingan bersama. 
Setiap keputusan yang sudah dimusyawarahkan akan senantiasa dihormati dan dijunjung tinggi.

5. Sila Keadilan Sosial Bagi Rakyat Indonesia

Kitab Samyutta Nikaya IV : 331 :
“Seseorang yang mencari kekayaan dengan cara tidak sah disertai kekerasan, dan dengan berbuat demikian ia tidak memperoleh kesenangan, tidak memperoleh kenikmatan bagi dirinya sendiri, ia tidak membaginya dengan orang lain serta tidak melakukan perbuatan berjasa apapun, adalah tercela dalam tiga hal. Ia tercela karena ia mencari kekayaan dengan cara tidak sah disertai kekerasan, karena ia tidak memperoleh kesenangan dan kenikmatan bagi dirinya sendiri, dan tidak membaginya dengan orang lain serta tidak melakukan perbuatan berjasa.”

5. Sila Keadilan Sosial Bagi Rakyat Indonesia

Kitab Samyutta Nikaya IV : 331 :
2) “Seseorang yang mencari kekayaan dengan cara sah tanpa kekerasan, dan dengan berbuat demikian ia memperoleh kesenangan dan kenikmatan bagi dirinya sendiri, membaginya dengan orang lain serta melakukan perbuatan-perbuatan berjasa, tetapi ia mempergunakan kekayaannya secara serakah, bernafsu, melekat, dan merasa bersalah, tidak berhati-hati terhadap bahaya penggunaan kekayaan secara salah dan lupa pada nilai batinnya yang tertinggi, adalah terpuji dalam tiga hal, tetapi masih tercela dalam satu hal. Ia terpuji karena ia mencarinya dengan cara sah tanpa kekerasan, memperoleh kesenangan dan kenikmatan bagi dirinya sendiri, dan membaginya dengan orang lain serta melakukan perbuatan berjasa. Tetapi ia masih tercela karena ia menggunakannya secara serakah, bernafsu, melekat dan merasa bersalah, tidak berhati-hati terhadap bahaya penggunaan kekayaan secara salah dan lupa pada nilai batinnya yang tertinggi.”

5. Sila Keadilan Sosial Bagi Rakyat Indonesia

Kitab Samyutta Nikaya IV : 331 :
3) “Tetapi seseorang yang mencari kekayaan dengan cara sah tanpa kekerasan, dan dengan demikian ia memperoleh kesenangan dan kenikmatan bagi dirinya sendiri, membaginya dengan orang lain, serta melakukan perbuatan-perbuatan berjasa, menggunakannya tanpa serakah, bernafsu, melekat, dan tidak merasa bersalah, penuh perhatian terhadap bahaya penggunaan kekayaan secara salah, dan hidup sesuai dengan nilai batinnya yang tertinggi, adalah terpuji dan tidak tercela dalam empat hal.“

6 Cara Mencapai Kerukunan
Anguttara Nikaya, Chakkanipata yaitu Saraniyadhamma Sutta atau ‘Sutta tentang hal-hal yang membuat dikenang’ :
“…terdapat enam hal yang membuat saling dikenang, saling dicintai, saling dihormati; menunjang untuk saling ditolong, untuk tiada kecekcokan, kerukunan dan kesatuan.”

6 Cara Mencapai Kerukunan
1) Memiliki perbuatan berdasarkan cinta kasih di depan maupun dibelakang orang lain.
2) Memiliki ucapan berdasarkan cinta kasih di depan maupun dibelakang orang lain.
3) Memiliki pikiran berdasarkan cinta kasih di depan maupun dibelakang orang lain.
4) Mau berbagi miliknya dengan orang lain.
5) Melaksanakan kemoralan yang sama sewaktu ia sendirian maupun di depan umum.
6) Memiliki pandangan yang benar di kala sendirian maupun bersama.
Kesimpulan
Sesungguhnya, Buddha Dhamma bukan hanya sekedar teori untuk dihafal dan dipelajari melainkan lebih pada pelaksanaan untuk mengubah perilaku agar manusia secara pribadi dapat terbebas dari kelahiran kembali dengan menghayati Empat Kesunyataan Mulia. 
Secara sosial, manusia yang melaksanakan Ajaran Sang Buddha dalam hidupnya akan lebih diterima dalam masyarakat karena ia telah menjadi orang yang baik dan bijaksana.


Comments