Menag Ajak Kaum Moderat Bicara dan Tampil Lebih Lantang

(Kemenag) --- Dialog tentang moderasi beragama perlu untuk terus disuarakan. Di sinilah peran kaum moderat ditunggu dalam masyarakat Indonesia. “Saya mengajak agar kaum moderat berbicara dan tampil lebih lantang lagi dalam memberikan pencerahan kepada umat akan esensi ajaran agama yang damai dan merahmati seluruh alam,” ujar Menag Fachrul Razi, di Jakarta, Selasa (14/07). 

Menag Fachrul menyampaikan ajakan tersebut saat menjadi pembicara kunci dalam webinar internasional yang digelar Institut Agama Islam Negeri  Syekh Nurjati Cirebon (IAIN Syekh Nurjati Cirebon). Webinar bertema Moderation Perspective in Understanding the Religious Texts and Social Practices ini dibuka oleh Rektor IAIN Syekh Nurjati Cirebon Sumanta. 

Hadir sebagai narasumber Menteri Agama RI 2014-2019 Lukman Hakim Saifuddin, Kepala BPIP Yudian Wahyudi, Senior Fellow Centre for Interfaith and Interculturak Dialogue at Griffith University Australia Adis Duderija, dan Kordinator Nasional Gusdurian Alissa Wahid. Acara yang diikuti oleh lebih dari 300an peserta ini dimoderatori oleh Mamay Mujahid. 

Dalam kesempatan tersebut, Menag mencermati adanya fenomena dua kutub yang eksis di masyarakat. "Ada dua kutub yang secara diametral bersitegang dan berseberangan. Ada yang terlalu longgar dalam memaknai ajaran agama yang pada akhirnya dapat jatuh dalam perilaku serba meremehkan ajaran agama atau sering disebut liberal,” kata Menag. 

“Di sisi yang lain, ada pula yang terlalu rigid atau kaku pemahaman keagamaannya karena berpaku kepada teks ajaran agama semata (atau sering disebut textualis), serta melepaskan diri dari konteks, sehingga terkesan kurang sesuai dengan tantangan dan situasi zaman saat ini,” paparnya. 

Menag pun memaparkan, kampus Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) memiliki peran penting untuk bisa mendialogkan dua kutub tersebut. “Peran kampus khusunya PTKIN sangatlah penting sekali untuk menjadi pencerah bagi masyarakat untu mendialogkan kedua kutub tersebut, sehingga ada silaturahmi fil fikri, yakni tegur sapa dalam pemikiran yang diharapkan mencapai titik temu (co-create meanings), dengan terus upaya dialog yang dilakukan,” kata Menag. 

Apalagi lanjutnya, saat ini moderasi beragama telah menjadi bagian RPJMN 2020-2024. Terkait hal ini, Menag Fachrul juga mengapresiasi Lukman Hakim Saifuddin yang dianggapnya telah menaruh dasar pondasi moderasi beragama pada kehidupan beragama di Indonesia. “Sekali lagi saya ingi  mengucapkan terimakasih kepada Bapak LHS yang telah meletakkan moderasi beragama sebagai legacy atau warisan di kementerian agama yang telah masuk dalam RPJMN Bappenas,” ujar Menag.

Sebelum menutup paparannya, Menag juga sekaligus meresmikan Rumah Moderasi Beragama IAIN Syekh Nurjati Cirebon. 

Comments