Wapres: Pemikiran Fiqih Syeikh Nawawi Moderat, Dinamis, dan Metodologis

 

Wapres: Pemikiran Fiqih Syeikh Nawawi Moderat, Dinamis, dan Metodologis

  • Sabtu, 26 September 2020 11:18 WIB
foto: Sugito

Serang (Kemenag) --- Wakil Presiden KH Ma'ruf Amin menghadiri wisuda perdana Program S1 Sekolah Tinggi Ilmu Fiqih (STIF) Syeikh Nawawi Tanara (Syentra). Melalui video konferensi, Wapres berpesan tentang tugas lulusan STIF.

"Ada dua tugas sarjana STIF, yaitu penguasaan ilmu agama dan meneruskan perjuangan Syeikh Nawawi," terang Wapres, Sabtu (26/09).

Menurut Wapres, Syeikh Nawawi adalah seorang ahli fiqih atau Faqih. Publik mengenalnya sebagai ahli Fiqih Syafii, Sufi, dan punya keunggulan dalam bidang tafsir.

"Cara berpikir Fiqih Syeikh Nawawi itu moderat, tidak tekstual, tapi juga tidak liberal. Juga dinamis, tidak statis. Ada metodologi yang digunakan. Tidak berpikir tanpa batasan dan patokan," tutur Wapres.

"Saya berharap sarjana STIF tidak berpikir tekstual, liberal, tapi moderat, dinamis, dan metodologis," sambungnya.

Menurut Wapres, Fiqih sifatnya fleksibel. Kajian Fiqih merupakan upaya mencari solusi keagamaan, keumatan, dan bahkan solusi kebangsaan dan kenegaraan.

Wapres mencontohkan, ketika membahas tentang keharusan memeratakan zakat kepada seluruh ashnaf (delapan), sebagaimana pendapat Imam Syafii. Namun, Syeikh Nawawi berpandangan bahwa pendapat itu sulit diterapkan karena tidak semua daerah ada delapan golongan penerima zakat.

"Syeikh Nawawi berpendapat boleh mendistribusikan zakat hanya pada tiga kelompok saja. Beliau juga mengatakan, jika masih hidup, Imam Syafii akan memberikan fatwa seperti itu," tuturnya.

Syeikh Nawawi, kata Wapres, menempatkan maslahat sebagai bagian penilaian penetapan hukum. Di antara pendapatnya, kalau pemerintah menetapkan sesuatu yang wajib menjadi wajib, maka wajibnya menjadi kuat. Ketika menetapkan yang sunnah, maka menjadi wajib. Ketika menetapkan yang mubah, dan jika ada mashlahah yang umum, maka hukumnya menjadi wajib. "Tentu saja mashlahah itu kalau tidak bertentangan dengan nash," tegasnya.

Di STIF, kajian yang dikembangkan utamanya adalah Fiqih Muamalah, ekonomi, terutama sektor keuangan. Ini kata Wapres sejalan misi pesantren Syeikh Nawawi. Yaitu, menyiapkan orang paham agama untuk melanjutkan tugas ulama (kaderisasi), serta pusat perbaikan, perubahan, dan inovasi.

"STIF menyediakan orang-orang yang berjiwa inovatif. Pesantren dijadikan pusat pengembangan inovasi, sekaligus menyiapkan tokoh-tokoh perubahannya," tegas Wapres.

Sebelumnya, Ketua Yayasan STIF Syentra Siti Ma'rifah melaporkan bahwa ada 31 wisudawan S1 angkatan pertama. Dia berharap mereka nantinya dapat ikut mengembangkan ekonomi dan keuangan syariah demi kemasalahatan umat di Indonesia.

Menurut Ma'rifah, STIF Syentra adalah satu-satunya perguruan tinggi keagamaan Islam dengan prodi ilmu Fiqih di Indonesia. Izin operasional terbit pada 2016, STIF kini sudah terakreditasi BAN PT.

Comments