Kemenag Integrasikan Nilai Keislaman dalam Modul Pembelajaran Numerasi dan Sains Madrasah

 

Kemenag Integrasikan Nilai Keislaman dalam Modul Pembelajaran Numerasi dan Sains Madrasah

  • Sabtu, 03 Oktober 2020 12:22 WIB

Bogor (Kemenag) --- Direktorat Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) Madrasah Kemenag memasukan nilai-nilai keislaman dalam Modul Pendidikan Keprofesian Berkelanjutan (PKB) bagi guru Madrasah Ibtidaiyah (MI), khususnya pengampu mata pelajaran rumpun numerasi dan sains.

Direktur GTK Madrasah, Muhammad Zain, menuturkan bahwa memasukkan nilai-nilai keislaman dalam materi numerasi dan sains sangat penting. Tujuannya, antara lain agar pendidik dan peserta didik tidak mendikotomi antara ilmu agama dan ilmu umum. 

Menurutnya, Islam tidak mempertentangkan kebenaran wahyu (Al-Qur'an) dengan realitas sains. "Materi sains perlu dikaitkan juga dengan nilai-nilai ketuhanan. Bahwa ujung pembelajaran sains adalah menemukan keagungan Tuhan, yakni adanya al-Haqq. Antara Al-Haqq (Yang Maha Mutlak) dan al-haqiqah berkait kelindan. Meneliti al-haqiqah (realitas) dan alam semesta bisa mengantarkan peserta didik kepada keimanan akan adanya yang Haq (Maha Mutlak)," tutur Zain saat memberikan arahan dalam Penyusunan Modul PKB Guru MI, di Bogor, Sabtu (03/10).

"Jadi, dengan adanya modul ini, pendidik maupun peserta didik akan bisa memahami bahwa sains yang  kita kembangkan adalah sains yang memiliki spirit dan nilai ketuhanan,” sambungnya.

Dikatakan Zain, dalam memasukan nilai-nilai agama dalam pembelajaran numerik dan sains, perlu menampilkan tokoh-tokoh ilmuan Islam yang telah berjaya dalam mengembangkan peradaban dunia, terutama pada abad 8 - 15 M. Tokoh ilmuan muslim perlu dikenalkan kepada peserta didik agar mereka termotivasi dan semangat melahirkan tradisi baru dalam dunia sains di kalangan Pendidikan Islam.

Zain lalu mencontohkan sejumlah intelektual Muslim masa lalu. Ada Abu Musa al-Khawarizmy (penemu angka nol), Abu Raihan al-Biruni (pengembang astronomi dan matematika), dan Ibn Sina (tokoh kedokteran). Karya Ibnu Sina tidak hanya persoalan filsafat, tetapi juga bidang kedokteran, al-Qanun fi al-Thibb (Tha Canon of Medicine). 

Tokoh lain yang disebut oleh Zain adalah Prof M. Abdus Salam, penerima hadiah nobel sains, fisika dan nuklir. Dalam pidato pengukuhannya, Abdus Salam mengutip Q.S al Mulk (67) ayat 3-4.  Abdus Salam berkesimpulan, tidak ada kontradiksi antara iman (wahyu) dengan penemuan- penemuan sains modern.

“Intinya, sains bisa mengarahkan manusia akan adanya Allah Swt. Kita harus merebut tradisi akademik yang baru dalam dunia sains. Yaitu, mengembalikan kejayaan Islam, sehingga peserta didik memiliki motivasi dalam mempelajari sains," jelas Zain. 

"Islam pernah punya Baitul Hikmah di Bagdad yang dibangun pada masa Khalifah Harun al-Rasyid dan al-Makmun. Itu adalah bukti otentik tentang pencapaian dan keagungan peradaban Islam," lanjutnya.

Untuk mewujudkan itu, kata Zain, perlu kerja keras, sistematis, berkesinambungan dan melibatkan banyak pihak, pakar, dan para guru. Tidak terkecuali, melibatkan peserta didik yang bersemangat mengembangkan ilmu dan sains.

Kasubdit Bina GTK RA, Siti Sakdiyah, menambahkan bahwa modul yang sedang disusun akan menjadi acuan dalam meningkatkan kompetensi numerasi dan sains dasar bagi guru MI. “Internalisasi nilai keislaman dalam penyusunan modul PKB MI ini sangat penting untuk penguatan karakter peserta didik yang langsung dapat terimplementasikan dalam pembelajaran, dan konten materi menjadi menarik,” ujar Sakdiyah.

“Jika modul selesai disusun, akan direview oleh para ahli, sehingga modul yang akan digunakan lebih komprehensif,” sambungnya.

Menurutnya, untuk memperkaya materi penyusunan modul ini, Kemenag melalui projeck Madrasah Education Quality Reform (MEQR) program komponen 3, menggandeng praktisi pendidikan, antara lain: Moh. Ikhsan (praktisi pendidikan, Muqowim (Dosen UIN Sunan Kalijaga), Ujang Sukandi (Tanoto Faundation), dan Woro Sri Hastuti (Dosen Universitas Negeri Yogyakarta). (Acha)

Comments