Kunci Transformasi KUA, Peta Kendala dan Inovasi

 

Kunci Transformasi KUA, Peta Kendala dan Inovasi

  • Rabu, 07 Oktober 2020 21:51 WIB
Sesditjen Bimas Islam Fuad Nasar (sebelah kiri) sedang menyampaikan arahan terkait transformasi KUA, di Bogor, Rabu (07/10). (Foto: Bimas Islam)

Bogor (Kemenag) --- Kementerian Agama berharap Kantor Urusan Agama (KUA) dapat menjadi unit pemerintah di tingkat kecamatan yang  transformatif. “KUA dapat disebut transformatif apabila ia hadir dan memainkan peran kolaboratif dengan stakeholder dalam menjalankan fungsinya,” kata Sekretaris Ditjen Bimas Islam Fuad Nasar, di Bogor, Rabu (07/10). 

Fuad yang hadir sebagai narasumber pada kegiatan Verifikasi Lomba Video Layanan KUA di Masa Pandemi Covid-19 ini menyebut berdasarkan PMA Nomor 34 Tahun 2016 terdapat sembilan tugas dan fungsi KUA.  “Sembilan fungsi yang dilaksanakan KUA ini adalah peran-peran yang bersifat kolaboratif untuk melayani masyarakat di tingkat kecamatan,” tutur Fuad. 

Ia pun mengungkapkan dua kunci transformasi KUA. Pertama, membuat peta analisa terhadap kendala yang dihadapi. “Petugas KUA harus dapat memetakan apa kendala yang dihadapi, agar fungsi-fungsi KUA dapat berjalan secara efektif,”kata Fuad.

“Petugas KUA harus mengenal entitas dan jejaring lokal di daerah masing-masing, karena akan sangat mendukung fungsi layanan publik di wilayahnya,”imbuhnya. 
 
Kedua, petugas KUA perlu terus melakukan inovasi guna melahirkan solusi jangka panjang. “KUA dituntut untuk terus melakukan inovasi dan (memiliki) cara pandang yang visioner,”ujar Fuad. 

Menurutnya dua hal tersebut perlu dilakukan, apalagi ke depan KUA memiliki tantangan yang amat besar. Salah satunya adalah mengantisipasi dampak bonus demografi terhadap ketahanan keluarga. 

Fuad mencontohkan, bonus demografi yang saat ini tengah dirasakan oleh Indonesia akan mengalami pelandaian di masa mendatang.

"Kurva bonus demografi itu, pada waktunya nanti akan melandai, dimana penduduk berusia tua kemudian akan lebih dominan. KUA harus bisa membaca dampak dari hal tersebut terhadap ketahanan keluarga," ujarnya.

Ia melanjutkan, "Pada saat kurva tersebut melandai, apakah kehidupan keluarga akan terdampak, seperti fenomena anak yang menitipkan orang tuanya di panti-panti jompo, tergerusnya ruang kehidupan keluarga yang sakinah, dan sebagainya, ini semua harus diantisipasi dari saat ini," pesannya.

Ia mengakui, masih cukup banyak pekerjaan rumah terkait KUA yang perlu diselesaikan. "Untuk mencapai hal tersebut, tentu diperlukan dukungan fasilitas sarana prasarana dan kualitas SDM yang baik, ini yang harus sama-sama kita perbaiki," tuturnya.

Comments