Santri dan Pentashih Mushaf Al-Qur'an di Kementerian Agama

 

Santri dan Pentashih Mushaf Al-Qur'an di Kementerian Agama

  • Kamis, 22 Oktober 2020 11:55 WIB
Tim Pentashihan Mushaf Al-Quran (LPMQ)

Melihat profil anggota pentashih mushaf Al-Qur'an mulai dari yang  pertama hingga  sekarang, setidaknya ada tiga kelompok para pentashih.  Pertama, pentashih dengan latar belakang para Kyai pengasuh pesantren Al-Qur'an. Kedua, pentashih dengan latar belakang pakar Al-Qur'an atau bahasa, baik akademisi dan peneliti. Ketiga, pentashih dengan latar belakang  para santri dan penghafal Al-Qur'an. 

Inilah tiga generasi pentashih Mushaf Al-Qur'an di Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur'an (LPMQ) Kementerian Agama. LPMQ adalah satuan kerja setingkat Eselon II yang secara struktur berada di bawah Badan Litbang dan Diklat, Kementerian Agama. Berbeda dengan satuan kerja lainnya di seluruh Kementerian/Lembaga negara, bahkan dunia, LPMQ diisi oleh para ASN yang hafal Al-Quran. Sebab, salah satu tugas mereka adalah melakukan pentashihan Mushaf Al-Qur’an yang akan terbit dan beredar di Indonesia. Mereka berkantor di Bayt Al-Qur’an dan Museum Istiqlal (BQMI), TMII, Jakarta Timur.

Kembali ke pembahasan tiga kelompok pentashih. Para kyai pengasuh pesantren Al-Qur'an menjadi pentashih ketika lajnah masih bernama  Lajnah Taftisy  Al-Masahif  Asy-Syarifah  pada tahun 1951. Pentashih generasi pertama ini diangkat langsung berdasarkan surat keputusan Menteri Agama saat itu, KH. Wahid Hasyim. Yang menjadi ketuanya Prof. Dr. Muhammad Adnan dengan aggota antara lain KH. Abdul Qadir Munawwir, KH. Abdullah Afandi Munawwir  Krapyak, KH. Arwani Kudus, KH. Ahmad Badawi Kaliwungu, KH. Dahlan Rejoso , KH. Musa Al Mahfudh, KH. M. Basyir, K H. Ahmad Ma'mur, dan KH. Muhammad Umar Al Muayyad. 

Beberapa pentashih yang sekarang adalah santri langsung dari dari para Kyai anggota Lajnah pertama ini. Seperti Kyai Ahsin adalah santri Kyai Umar Abdul Manan, Kyai Arwani dan Kyai Ahmad Badawi. Bersama kyai Ahsin,  Kyai Fathoni juga santri Kyai Abdul Qadir Munawir Krapyak. Sedangkan pentashih yang lain adalah "cucu santri" karena kyainya adalah keturunan atau murid para Kyai pentashih pertama tersebut. 

Pada tahap selanjutnya, ketika Lajnah Taftisy berubah menjadi Lajnah Pentashih Mushaf Al-Qur'an, maka anggota lajnah selain para kyai juga ditambahi pentashih dengan latar belakang para pakar Al-Qur'an, pakar Bahasa Indonesia, dan ahli Braille, baik dari akademisi, praktisi, maupun para peneliti. Periode kedua ini mulai tahun 1957 hingga tahun 2007.  Jumlah para pentashih selama rentang waktu 50 tahun ini adalah  80 orang, antara lain: KH. M. Syafii Hadzami, Prof. Dr. Quraish Shihab, MA., Prof. DR. Said Agil Husen Al-Munawar., Dr. Ali Audah, KH. Ali Mustafa Yaqub, dan lainnya. Beliau-beliau ini selain melakukan pentashihan juga mengawal terjemah Kementerian Agama yang juga menjadi bagian tak terpisahkan dari Pentashihan Mushaf Al-Qur'an.

Generasi ketiga para pentashih adalah ketika Lajnah menjadi satuan kerja  tersendiri dengan nama Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur'an pada tahun 2007.  Saat itu, direkrutlah para santri penghafal Al-Qur'an  yang berjumlah 24 orang untuk menjadi pentashih mushaf Al-Qur'an.  Mereka adalah santri yang pernah nyantri di berbagai pesantren di Indonesia dari Sumatra, Jawa hingga Sulawesi. Selain itu juga, karena kebutuhan pentashih,  direkrut juga pentashih non PNS yang juga para santri pesantren. Generasi ketiga ini menjadi pentashih mulai tahun 2008 hingga saat ini.

Para pentashih baru ini – di bawah arahan kepala lajnah - langsung disupervisi dan dibimbing oleh para Kyai dan Pentashih lajnah, khususnya  Kyai Ahsin Sakho Muhammad dan dan Kyai Ahmad Fathoni dalam kajian ulumul quran seperti rasm dhobt dan qiraat. Dengan Kyai Ahsin, para pentashih sudah mengkaji kitab Al-Muqni' nya Imam Addani. Juga menkaji Dalilul Hairan Syarah Mairudh Dhom'an, nadlam rasm dhobt yang disusun oleh Imam al Kharraz.  Saat ini beliau mengajar para pentashih Nadham Syatibiyah dalam Ilmu Qiraat. 

Sedangkan terkait sejarah Lajnah dan Mushaf Standar Indonesia (MSI), ada E. Badri Yunardi, anggota Lajnah dari tahun 1972 hingga sekarang. Alumni pesantren SIRNA BAKTI Bogor pimpinan KH. Muhammad  Ma'sum inilah yang mengawal muker ulama Al-Quran dari 1974-1983 yang kemudian melahirkan Mushaf Standar Indonesia. Selain beliau, ada Juga pak Mazmur Sya'roni, pentashih senior yang ikut menyusun buku Pedoman Umum Penulisan dan Pentashihan Mushaf Al-Qur'an dengan Rasm Usmani yang disusun oleh tim Lajnah. 

Terkait dengan pentashih dan latar belakang pesantrennya ada beberapa anggota pentashih dari 2008 hingga saat ini, yang nyantri di pesantren yang sama.  

1. Tercatat ada empat pentashih adalah santri  pesantren Modern Gontor Ponorogo. Dari Gontor, mereka lalu melanjutkan ke pesantren Al-Quran di berbagai tempat. Salah satunya bahkan diambil menantu oleh sang Kyai. 

2. Tiga Pentashih adalah santri Sunan Pandanaran Jogjakarta yang diasuh oleh Mbah Mufid, yaitu Dr. Husnul Hakim, Dr. Ali Nurdin, dan Kepala LPMQ Dr. Muchlis M. Hanafi. Oleh Mbah Mufid, Muchlis M Hanafi sering diajak untuk ziarah ke makam-makam aulia. Kepala LPMQ ini merupakan sosok santri yang "merdeka dalam belajar". Kesukaanya, menjelajah berbagai pesantren dengan corak pemikiran yang berbeda. Dia suka memanfaatkan liburan pesantren untuk nyantri di berbagai pesantren di Jawa. Karena itu, sangat wajar masa mudanya mengalami perubahan pemikiran di masa pencarian jatidiri. Dari Gontor beliau ke bangil, tepatnya nyantri di Pesantren Tinggi Ilmu Fiqih dan Dakwah Masjid Manarul Islam Bangil. Setelah itu, Muchlis melanjutkan ke Pesantren Sunan Pandanaran. 

3. Tujuh pentashih adalah santri Krapyak Yogjakarta, termasuk KH. Ahsin Sakho Muhammad dan Kyai Fathoni yang menjadi mentor dan pembimbing 24 pentashih muda dalam kajian rasm dan qiraat.

4. Tujuh pentashih adalah santri Madrasatul Quran Tebuireng Jombang, bahkan salah satunya yaitu KH. A. Muhaimin Zen pernah menjadi  Mudir 1 Pesantren Madrasatul Quran Tebuireng. 

5. Tercatat dua pentashih dengan pesantren yang sama antara lain Pesantren Langitan, Pesanren Al Islah Bungah. 

Catatan lain terkait lokasi pesantren para pentashih, khususnya pesantren Al-Quran juga beragam. Dari Kota Kudus, Pesantren Yanbu', Mazroatul Ulum Damaran, dan Al-Furqon. Dari Yogjakarta, Pesantren Krapyak dan Sunan Pandanaran. Dari Jawa Tengah, Pesantren Al Muayyad Surakarta,  Al Asy’ariyah Kalibeber Wonosobo, Nurul Qur'an Kajen Margoyoso Pati, al Ihya Ulumuddin Kesugihan Cilacap, dan Dar Al Qur'an Al Islamy Lebaksiu Tegal.

Dari Jawa Timur, ada pesantren Madrasatul Quran Tebuireng, dan Tahfiz Al-Qur'an Langitan Tuban. Dari Jawa Barat, Pesantren Tahfiz Mambaul Furqan Karekhel Leuwi Liang Bogor, dan Al-'Arafat Gintung Lor Susukan Cirebon. Sementara dari luar Jawa, ada Pesantren Asadiyah Sengkang Wajo Sulsel,  Imam Ashim Makassar, Darul Huffadz, Majlis Qurra' Walhuffadz Tuju-tuju, Kajuara Bone, Sulawesi Selatan, Pesantren Islamic Center Medan, Dar Al Qur'an Al Islamy Batanghari Jambi, dan Pesantren Al-Aziziyah, Mataram Lombok.

Catatan ini sebenarnya ingin menegaskan peran santri dalam mengawal  kesucian Mushaf Al-Qur'an di Indonesia. Juga ingin melihat proses regenerasi pentashih mushaf Al-Qur'an yang terus bersambung dari generasi awal pada tahun 1951 ke generasi ketiga dengan dijembatani sangat baik oleh generasi kedua seperti Kyai Ahsin Pak Quraish Shihab, Kyai Said Agil Husen Al Munawar dan lainnya. 

Meskipun para santri sebagai generasi ketiga para pentashih ini secara kualitas di bawah pentashih generasi pertama dan kedua, tetapi seiring dengan arahan Kepala LPMQ  Dr. Muchlis M. Hanafi tentang peningkatan kompetensi pentashih, alhamdulillah ada satu dua pentashih yang mampu meningkatkan kompetensinya dengan melakukan kajian Mushaf Standar Indonesia  hingga tingkat doktoral. Tercatat Dr. Zaenal Arifin Madzkur dengan  kajian tentang rasm MSI dan Dr. Fahrur Razi dengan kajian Waqaf nya.

Bukan hanya peningkatan kompetensi secara formal, dalam keahlian non formal beberapa pentashih juga sudah menguasai Al-Qur'an dalam huruf Braille yang dikhususkan untuk disabilitas penglihatan. Pentashih yang ahli dalam bidang ini di antaranya: Ahmad Jaeni, MA., Dr. Ahmad Badrudin,Lc.,MA.,  Imam Muttaqien, Samiah MA, dan Ida Zulfiya MA. Nama terakhir ini juga menjadi inisiator  penyusunan pedoman baca Al-Quran bagi disabilitas tunarunguwicara yang insya Allah akan dibuat pada tahun 2021. Ida Zulfiya juga yang ketika nyantri sudah sering berkirim fatihah kepada anggota pentashih yang namanya tercantum di Al-Quran.

Akhir Kalam menjadi santri adalah selamanya. Para pentashih generasi ketiga di tengah tugas sebagai pentashih masih juga mengkaji Kitab Rasm dan Qiraat. Juga masih ditugaskan oleh Kepala Lajnah  untuk nyantri ke Mesir berguru dengan masyayikh Azhar dan Syaikh Mesir lainnya. Juga tidak melupakan tugas pengabdian di masyarakat, baik sebagai pendidik, imam, mengisi kajian di berbagai tempat. 

Semoga Allah meridhai kita semua... Amin

Selamat Hari Santri 2020. Jayalah Pesantren Indonesia. Santri Sehat Indonesia Kuat. Jaga Pesantren untuk Indonesia.

Ahmad Nur Qomari Al Hafidz (ASN Pentashih Mushaf Al-Quran, LPMQ Kementerian Agama)

Comments